Bingkai yang Rapuh
Di kala sungai-sungai sudah mulai mengering:
tanah-tanah rekah menguap
batang dan daun mengeluarkan air mata
tak ada lagi tempat berteduh
bagi musang dan rubah
oy
teriak musang sambil berlari-lari kepanasan
bersembunyi di balik rumput dan dahan-dahan yang mati
setelah habis tak ada lagi ikan untuk dimakan
dan air untuk diminum
Matahari semakin murka
hujan tak lagi di ijinkan untuk turun
si elang masih terbang Bersama wajah angin
saling buru saling tipu berubah menjadi pemburu
Siapa kah mereka yang mampu meredam matahari
membujuk mendung agar turun hujan
memastikan air kembali mengalir
dan hutan kembali hijau
Si rubah mengintip dari selah-selah batu
sambil menanting mangkuk berisikan air mata
Siapa kah mereka yang merusak wajah bumi
memapas habis hutan kami
tak ada kabut embun tak lagi singgah
burung-burung dan katak pemanggil hujan
sudah lama tak bernyawa
Bangunan megah sudah mulai tak bercahaya
apalagi yang ingin di korbankan
setelah punggung bumi di biarkan berlubang
dan kau kini hanya mengais sisa tangis
meringis di dalam mimpi
tak ada lagi belulang moyang kami
@setajam_pena (Banjarmasin 9 juli 2019)

Komentar
Posting Komentar