Langsung ke konten utama



Bingkai yang Rapuh

Di kala sungai-sungai sudah mulai mengering:
tanah-tanah rekah menguap
batang dan daun mengeluarkan air mata
tak ada lagi tempat berteduh
bagi musang dan rubah

oy
teriak musang sambil berlari-lari kepanasan
bersembunyi di balik rumput dan dahan-dahan yang mati
setelah habis tak ada lagi ikan untuk dimakan
dan air untuk diminum

Matahari semakin murka
hujan tak lagi di ijinkan untuk turun
si elang masih terbang Bersama wajah angin
saling buru saling tipu berubah menjadi pemburu

Siapa kah mereka yang mampu meredam matahari
membujuk mendung agar turun hujan
memastikan air kembali mengalir
dan hutan kembali hijau

Si rubah mengintip dari selah-selah batu
sambil menanting mangkuk berisikan air mata

Siapa kah mereka yang merusak wajah bumi
memapas habis hutan kami
tak ada kabut embun tak lagi singgah
burung-burung dan katak pemanggil hujan
sudah lama tak bernyawa

Bangunan megah sudah mulai tak bercahaya
apalagi yang ingin di korbankan
setelah punggung bumi di biarkan berlubang
dan kau kini hanya mengais sisa tangis
meringis di dalam mimpi
tak ada lagi belulang moyang kami

@setajam_pena (Banjarmasin 9 juli 2019)







Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tersenyum Di atas sebatang kayu mahkota nenek moyang ku di dasar batu-batu yang terukir peradaban di dalam belaian dahan-dahan yang menjadi saksi antara aku dan engkau Ku lukis keresahan ku di atas langit malam tanpa bintang tatapan bulan tanpa pernah berkedip serta ilalang yang tak pernah mengeluh maupun terus di hempas angin Aku kabarkan kembali kepadaku kepada jiwa yang hampir mati kepada rasa yang tak lagi mampu meraba kepada nafas yang tak lagi mampu di rasa kepada jantung yang tak lagi mampu bernada Aku ungkapkan kekesalanku di atas padang yang gersang kepada keindahan yang tak nyata kepada senyum yang pandai bersandiwara kepada hidup tanpa cinta @setajam_pena, puncak manjay 13 oktober 2019
Senyum gadis manis Mencintai hutan meratus: Adalah meminang gadis manis Bersayap dalam rangkulan wajah alam Memandang rambut nya yang terjurai Menyibak kabut dari kedua mata nya Mencintai hutan meratus: Adalah engkau yang bahagia dalam puncak nya Duduk di atas singgahsana dengan jubah dan mahkota Mencintai hutan meratus: Adalah aku yang terus menari Di atas lembab nya kulit mu Terbuai dengan nyanyian alam yang semakin terasa Dan ketukan jantung ku akan semakin bernada Mencintai hutan meratus: Adalah sepasang merpati Yang berteduh di bawah pepohonan Setelah kedua sayapnya bercumbu dengan hujan Mencintai hutan meratus: Adalah dia seorang ibu Yang selalu merangkul anak nya Mengayun dalam setiap tidur mu Menyuguhkan kehangatan dalam setiap dingin mu   Lalu kita bagai gerombolan burung pipit Yang terbang, menari menembus langit Dan memandang gadis itu, mengukir peradaban @setajam_pena (Banjarmasin 17 juli 2019)
Sumpah Dalam Balada Di ujung tempat pertapaan ku dimana air itu mengalir membersihkan setiap peluh dan lumut pada tubuh menceritakan setiap balada moyangku Di atas tanah saat padi-padi mulai menguning tumbuhlah hikayat dengan tombaknya masih menancap di atas batu mengingatkan setiap warisan yang tersimpan diatas tanah asal ku Jika tempat tanah moyangku mengalirkan air mata pohon dan ranting memuntahkan darah enggang yang mati menjadi tangis bagi laung melingkar di kepala Maka ku tumpahkan setiap mantra dari air ke tanah, langit ke bumi, damak ke tombak hingga hiruplah setiap wisa yang mengalir kedarah mu Jika bumi yang kau pijak selalu kau ludahi air yang mengalir sengaja kau racuni wajah dari moyang ku sengaja kau sayat membekas setiap luka dirasakan pedihnya oleh anak-anak diujung desa Maka haram bagi ku membiarkan sebilah mandau masih melingkar di higa pinggang! setajam_pena Batulicin 2019