Langsung ke konten utama

Tarian kematian



Di punggung bumi  belulang moyang kami berkubur:
Adalah tempat ku berkaca
Menjawab pertanyaan si enggang
Dengan bangkai-bangkai dunia
Yang mati meneguk wisa ke pembuluh raga

Di punggung bumi belulang moyang kami berkubur:
Adalah tangis wajah ibu bumi
Menahan perih akibat luka
Dan darah  mengalir diantara tanah-tanah yang rekah

Di punggung bumi belulang moyang kami berkubur:
Aku mandikan sebilah Mandau
Dengan darah Bersama mantra dan doa
Untuk menjawab pertanyaan mu
Duhai mereka yang akan menjadi bangkai berikut nya

Di punggung bumi belulang moyang kami berkubur:
Tempat mu berjumpa dengan kematian
Darah mu akan tumpah mengalir di antara akar-akar pepohonan
Tubuh mu akan menanting mangkuk berisikan darah dan air mata

Di punggung bumi belulang moyang kami berkubur:

“Wanang aliku darah dika
Wanang aliku sumangat dika”

Oooo

“Ku ilayakan sabilah Mandau sakilan tumatan gulu andika
Ku susup darah matan bumbunan dayam
Ing kata’an ing kalimah”

Akan ku nikmati darah yang mengalir dari batang leher mu
Aku akan menari dalam kematian mu
Berpesta pora dengan darah dan tubuhmu
Akibat pohon-pohon yang kau papah
Dan sungai mengalirkan darah


@setajam_pena  (Banjarmasin 17 juli 2019)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jum'at kelabu Malam yang menyala tanah-tanah murka menumbuhkan anarki bising balai perundingan sorak-sorai menjadi tangis bagi murai yang tersesat dalam sarangnya sendiri Mereka melangkah dengan sejuta dendam melukis luka, meluapkan amarah tanpa sadar yang mereka bakar adalah batang tubuh yang nantinya akan menjadi air mata dalam surat kabar usang di emperan jalan Dalam tidurpun anak-anak hingga balita takut untuk bermimpi padi-padi dari harapan petani menjadi bayang-bayang kesedihan dalam sudut manapun kita sudah menjadi rumpun-rumpun jerami yang rapuh Malam ku menjelma menjadi duka tatkala senja menjadi merah menyala memuntahkan asap-asap dan jerit ibu dengan gaun robek yang berusaha keluar dari dapur pertapaan Menang mu menjadi abu               Kalah mu menjadi abu                          Benar mu menjadi abu     ...
  Siul enggang Waja sampai kaputing ucapmu: dalam dekapan malam di topang kilatan cahaya bersayapkan ranting dan daun berwajah adat dan budaya Hidup dalam kehidupan berkedip untuk menghidupkan Jika pohon dan ranting jatuh di hempas angin daun tak lagi hijau, kumbang memilih mati dan burung yang terbang tak kembali pulang angka-angka berserakan Tempat menghadap Tuhan akan sepi bayi tak lagi mampu menghadap matahari tawa bersembunyi dalam lengkingan sunyi tubuh bergelempangan berenang dengan darah, di sudut jalan tanpa kafan Yaa apang yaa umang salammu kepada gagak suaramu di dalam selusup kayu pepatahmu mematah asa dimana kau berpijak di situ langit kau junjung Amarahmu di dalam kening bumi senyummu di dalam dekapan cakrawala tangismu bersembunyi di dalam tangisku diammu bersemayam bersama setiap nafasku Yaa apang ya umang acungkan sebilah mandau dalam laju punggung angin amarahku adalah amarahmu lukaku...
Dua sudut pandang kisah lucu di dalam negeri ku: dimana pemain sirkus menjadi pemimpin kantor-kantor mewah jadi kandang para maling apalah ragam yg tertinggal kalau bukan budaya saling tuding inilah kisah kayanya negri ku: pulau yang mengapung di genangan samudra bercorak dalam ragam suku dan agama bersayap toleransi berbahasa berwajah indah adat dan budaya O,uang tunjukan aku dimana keadilan itulah budaya kita sekarang kebenaran bisa di beli dengan uang orang-orang bodoh pada gila dengan jabatan hak asasi manusia menjadi mainan korupsi di jadikan kebudayaan jika air masih mengalir dari hulu: suara camar masih elok terdengar dari sabang sampai merauke masih tergenggam sang garuda tak lupa pijakan kaki untuk pulang budaya kita tak akan lekang oleh jaman sang garuda kini telah terbang tinggi menembus langit hingga dia lupa dengan pijakan kaki untuk pulang perbedaan kelas menjadi sesuatu hal yang tabu untuk membumbu dari...